Kamis, 09 November 2017

Narasi


BANJIR 2007

Hari ini, Selasa, tanggal 26 September 2017, aku sedang duduk di depan balkon rumahku menikmati hangatnya coklat panas di tengah dinginnya udara sore. Udara dingin ini disebabkan angin berhembus yang kencang dan hujan yang sedang mengguyur kota Tangsel setelah sekian lama tak pernah turun. Air di perumahan tempat aku tinggal mulai menggenang. Namun, tidak separah 10 tahun lalu.
            Pada saat itu terjadi bencana alam banjir 2007 menenggelamkan seluruh daerah ibu kota. Banjir 2007 terkenal dengan banjir yang sangat dasyat dari tahun-tahun sebelumnya. Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Beberapa orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit.
            Kejadian 10 tahun meninggalkan kenangan buruk di benak pikiran ku. Saat itu aku masih duduk di bangku SD. Hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari. Namun, tidak menggoyahkan tekadku untuk datang ke sekolah, dengan diantar kakekku. Orangtua ku kerja, mereka berangkat pagi pulang malam aku tinggal Bersama kakek dan nenek ku.
            Pagi itu belum terjadi apa-apa, masih beraktivitas seperti biasa. Sekitar pukul 09.00 WIB, kami dipulangkan lebih awal, guru-guru di sana memberi intruksi agar tidak pulang dulu kalau belum dijemput. Ternyata alasan kami dipulangkan lebih awal karena tiba-tiba banjir datang. Sekolah ku terkena banjir namun, tidak separah di kawasan rumahku karena letaknya berada di jalan raya.  
Aku menunggu kakek ku sendirian, tiba-tiba tetangga ku datang menghampiri aku, dia mengajakku pulang bersamanya. Awalnya aku menolak, Karena disekolah semakin sepi, akhirnya aku ikut dengannya, sepatu ku dilepas agar tidak basah Karena banjir, di sepertiga jalan dari sekolah ku, aku bertemu kakek-ku.
Sampailah kami di komplek rumah ku, saat itu air masih sebetis orang dewasa. Itu baru di gerbang komplek, belum kedalamnya rumah ku lumayan jauh dari gerbang komplek lebih tepatnya dekat kali. Kita jalan pelan-pelan melawan arus air banjir, saat kita tiba di pertengahan komplek tak disangka air banjir sudah selutut orang dewasa, arus air banjir saat itu sangat deras.
Aku menggenggam erat tangan kakek ku agar tidak terbawa arus banjir.  Namun naas saat itu arus terlalu deras dan menyebabkan aku terseret arus. Aku terlepas dari genggaman tangan kakek ku, aku tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu, yang aku ingat hanya tenggelam kedalam air karena aku tidak bisa berenang, dan terseret arus banjir. Untungnya aku tidak terseret terlalu jauh, ada seseorang yang menangkap aku dari belakang.
Dia adalah tetangga ku, lalu aku digendong sampai ke dalam rumahku. Aku tidak terlalu ingat apa yang aku rasakan saat itu. Setibanya kami di rumah, aku disambut oleh nenekku. Dulu, rumahku belum tingkat, tetangga sebelah rumahku memanggil untuk menawarkan tempat tinggal sementara, atau yang lebih dikenal sebagai tempat mengungsi. 
Aku pun mengungsi sementara di rumah tetangga ku. Kedua orangtuaku tidak dapat pulang, karena semua akses jalan terputus. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, airpun mulai surut. Aku pamit pulang kerumah, awalnya tetanggaku tidak mengizinkan karena takut terjadi banir susulan. Tapi, aku tidak betah bila berada dirumah orang tanpa keluargaku. Kakek dan nenek ku lebih memilih untuk bertahan dirumah karena khawatir jika ada orang masuk.
Beberapa warga mulai pulang kerumah masing-masing dari tempat mengungsi sementara, ada yang langsung bersih-bersih rumah begitupun aku membantu nenek membersihkan rumah. Banjir sudah tidak lagi masuk kedalam rumah karena air mulai surut. Namun, orangtuaku tetap gak bisa pulang karena akses jalan masih belum terputus.
Pada tanggal 2 Febuari 2007, pukul 23.00 WIB. Banjir susulan kembali datang, tiba-tiba yang awalnya air hanya setinggi kurang lebih ½ meter, kini meningkat menjadi 1,5 meter. Saat itu aku sudah terlelap, tanpa sadar air sudah membasahi badan ku. Ya, aku tidur diatas air.
Tetangga ku memanggil-manggil Aku, Kakek, dan nenekku. Akhirnya kita bertiga kembali di ungsikan ke rumah tetanggaku. Di waktu yang bersamaan kedua orang tua ku tiba, saat itu lampu sedang padam. Lampu di padamkan sampai keesokkan harinya, gardu dikomplek gagal berfungsi akibat terendam banjir.
Hmmm… Jika harus jujur, sebenarnya aku sering mengalami kesulitan karena harus mengingat lagi kejadian yang sudah lama berlalu secara rinci. Begitulah aku, walaupun aku belum ahli dalam menulis, tetapi aku tetap berusaha untuk bisa. Aku berusaha menceritakannya dengan jujur.
Jujur sebenarnya aku sudah 2 kali mengulang membuat narasi. Kenapa? Karena laptop-ku sedang ngambek. Oke lupakan, sebelum malam jadi larut, sebelum aku nanti dimarahi oleh ketua kelas karena elum mengumpulkan tugas yang sudah deadline, kita lanjut cerita yang hampir selesai.
            Kurang lebih sekitar 15 jam listrik dipadamkan, airpun belum kunjung surut, bantuan dari pemerintah juga belum datang. Kami makan seadanya, hanya Indomie. Selama 3 hari kami berada di rumah tetangga kami karena banjir yang tak kunjung surut. Aktivitas warga lumpuh total.
            Setelah 3 hari berlalu banjir akhirnya surut juga, bisa dibilang surut total. Pasca banjir, di jalan  banyak sampah-sampah berserakan, dan lumpur di mana-mana, jalanan pun yang tadinya halus menjadi rusak.
            Bantuan pun mulai datang, mulai dari pengobatan gratis, sembako, dll. Aku datang ke posko pengobatan untuk meriksa kesehatanku karena dari hari pertama banjir sampai saat ini batukku tak sembuh-sembuh.
            Aku yang hanyut dalam cerita masa laluku pun tersadar dari lamunanku ketika ponsel di sampingku bergetar tanda masuknya notifikasi Line, aku segera membaca grup di Line, ketua kelasku akan mengumpulkan tugas kami.
Banjir 2007 sangat-sangat meninggalkan kenangan bagiku, namun aku harus bersyukur karena aku masih diberi kesempatan hidup. Kejadian itu memberi pelajaran berarti yaitu kita harus saling tolong menolong terhadap sesama yang sedang kesulitan, seperti yg dilakukan tetanggaku kepadaku, dia menolong aku saat tenggelam dan menolong keluargaku dengan menyediakan rumahnya sebagai tempat mengungsi sampai banjir surut.
Melakukan perbuatan baik tidak akan merugikan diri kita, karena perbuatan baik pasti akan dibalas dengan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar