BANJIR 2007
Hari
ini, Selasa, tanggal 26 September 2017, aku sedang duduk di depan balkon
rumahku menikmati hangatnya coklat panas di tengah dinginnya udara sore. Udara
dingin ini disebabkan angin berhembus yang kencang dan hujan yang sedang
mengguyur kota Tangsel setelah sekian lama tak pernah turun. Air di perumahan
tempat aku tinggal mulai menggenang. Namun, tidak separah 10 tahun lalu.
Pada saat itu terjadi bencana alam banjir 2007
menenggelamkan seluruh daerah ibu kota. Banjir 2007 terkenal dengan banjir yang
sangat dasyat dari tahun-tahun sebelumnya. Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban
manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996.
Beberapa orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat
listrik, atau sakit.
Kejadian 10 tahun meninggalkan kenangan buruk di benak
pikiran ku. Saat itu aku masih duduk di bangku SD. Hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari
hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari. Namun, tidak menggoyahkan
tekadku untuk datang ke sekolah, dengan diantar kakekku. Orangtua ku kerja,
mereka berangkat pagi pulang malam aku tinggal Bersama kakek dan nenek ku.
Pagi itu belum terjadi apa-apa, masih beraktivitas
seperti biasa. Sekitar pukul 09.00 WIB, kami dipulangkan lebih awal, guru-guru
di sana memberi intruksi agar
tidak pulang dulu kalau belum dijemput. Ternyata alasan kami dipulangkan lebih
awal karena tiba-tiba banjir datang. Sekolah ku terkena banjir namun, tidak
separah di kawasan rumahku karena letaknya berada di jalan raya.
Aku
menunggu kakek ku sendirian, tiba-tiba tetangga ku datang menghampiri aku, dia
mengajakku pulang bersamanya. Awalnya aku menolak, Karena disekolah semakin sepi,
akhirnya aku ikut dengannya, sepatu ku dilepas agar tidak basah Karena banjir,
di sepertiga jalan dari sekolah ku, aku bertemu kakek-ku.
Sampailah
kami di komplek rumah ku, saat itu air masih sebetis orang dewasa. Itu baru di
gerbang komplek, belum kedalamnya rumah ku lumayan jauh dari gerbang komplek
lebih tepatnya dekat kali. Kita jalan pelan-pelan melawan arus air banjir, saat
kita tiba di pertengahan komplek tak disangka air banjir sudah selutut orang
dewasa, arus air banjir saat itu sangat deras.
Aku
menggenggam erat tangan kakek ku agar tidak terbawa arus banjir. Namun naas saat itu arus terlalu deras dan
menyebabkan aku terseret arus. Aku terlepas dari genggaman tangan kakek ku, aku
tidak ingat apa yang aku rasakan saat itu, yang aku ingat hanya tenggelam
kedalam air karena aku tidak bisa berenang, dan terseret arus banjir. Untungnya
aku tidak terseret terlalu jauh, ada seseorang yang menangkap aku dari
belakang.
Dia
adalah tetangga ku, lalu aku digendong sampai ke dalam rumahku. Aku tidak terlalu
ingat apa yang aku rasakan saat itu. Setibanya kami di rumah, aku disambut oleh
nenekku. Dulu, rumahku belum tingkat, tetangga sebelah rumahku memanggil untuk
menawarkan tempat tinggal sementara, atau yang lebih dikenal sebagai tempat
mengungsi.
Aku
pun mengungsi sementara di rumah tetangga ku. Kedua orangtuaku tidak dapat
pulang, karena semua akses jalan terputus. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB,
airpun mulai surut. Aku pamit pulang kerumah, awalnya tetanggaku tidak
mengizinkan karena takut terjadi banir susulan. Tapi, aku tidak betah bila
berada dirumah orang tanpa keluargaku. Kakek dan nenek ku lebih memilih untuk
bertahan dirumah karena khawatir jika ada orang masuk.
Beberapa
warga mulai pulang kerumah masing-masing dari tempat mengungsi sementara, ada
yang langsung bersih-bersih rumah begitupun aku membantu nenek membersihkan
rumah. Banjir sudah tidak lagi masuk kedalam rumah karena air mulai surut.
Namun, orangtuaku tetap gak bisa pulang karena akses jalan masih belum terputus.
Pada
tanggal 2 Febuari 2007, pukul 23.00 WIB. Banjir susulan kembali datang,
tiba-tiba yang awalnya air hanya setinggi kurang lebih ½ meter, kini meningkat
menjadi 1,5 meter. Saat itu aku sudah terlelap, tanpa sadar air sudah membasahi
badan ku. Ya, aku tidur diatas air.
Tetangga
ku memanggil-manggil Aku, Kakek, dan nenekku. Akhirnya kita bertiga kembali di
ungsikan ke rumah tetanggaku. Di waktu yang bersamaan kedua orang tua ku tiba,
saat itu lampu sedang padam. Lampu di padamkan sampai keesokkan harinya, gardu
dikomplek gagal berfungsi akibat terendam banjir.
Hmmm…
Jika harus jujur, sebenarnya aku sering mengalami kesulitan karena harus
mengingat lagi kejadian yang sudah lama berlalu secara rinci. Begitulah aku,
walaupun aku belum ahli dalam menulis, tetapi aku tetap berusaha untuk bisa.
Aku berusaha menceritakannya dengan jujur.
Jujur
sebenarnya aku sudah 2 kali mengulang membuat narasi. Kenapa? Karena laptop-ku sedang ngambek. Oke lupakan,
sebelum malam jadi larut, sebelum aku nanti dimarahi oleh ketua
kelas karena elum mengumpulkan tugas yang sudah deadline, kita lanjut cerita yang hampir selesai.
Kurang lebih sekitar 15 jam listrik dipadamkan, airpun
belum kunjung surut, bantuan dari pemerintah juga belum datang. Kami makan
seadanya, hanya Indomie. Selama 3 hari kami berada di rumah tetangga kami karena
banjir yang tak kunjung surut. Aktivitas warga lumpuh total.
Setelah 3 hari berlalu banjir akhirnya surut juga, bisa
dibilang surut total. Pasca banjir, di jalan banyak
sampah-sampah
berserakan,
dan lumpur di
mana-mana,
jalanan pun yang tadinya halus menjadi rusak.
Bantuan pun mulai datang, mulai dari pengobatan gratis,
sembako, dll. Aku datang ke posko pengobatan untuk meriksa kesehatanku karena
dari hari pertama banjir sampai saat ini batukku tak sembuh-sembuh.
Aku yang hanyut dalam cerita masa laluku pun
tersadar dari lamunanku ketika ponsel di sampingku bergetar tanda masuknya notifikasi
Line, aku segera membaca grup di Line, ketua kelasku akan mengumpulkan tugas
kami.
Banjir
2007 sangat-sangat meninggalkan kenangan bagiku, namun aku harus bersyukur
karena aku masih diberi kesempatan hidup. Kejadian itu memberi pelajaran
berarti yaitu kita harus saling tolong menolong terhadap sesama yang sedang kesulitan, seperti yg dilakukan tetanggaku kepadaku, dia menolong aku saat tenggelam dan menolong keluargaku dengan menyediakan rumahnya sebagai tempat mengungsi sampai banjir surut.
Melakukan perbuatan baik tidak akan merugikan diri kita, karena perbuatan baik pasti akan dibalas dengan kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar